Selamat datang di Umul Hidayah Blogspot... Di sini Anda akan memperoleh pengetahuan seputar pendidikan anak usia dini. Semoga Bermanfaat ...

Senin, 23 Juli 2012

Teori Perkembangan Anak


Perkembangan Emosi Anak Dalam Perspektif Erikson, Hambatan dan Upaya Memaksimalkannya

Berdasarkan teori perkembangan hidup yang dikemukakan Erikson, usia 4 – 6 tahun berada pada masa inisiatif vs rasa bersalah. Pada tahap ini, anak merasakan dunia sosial yang lebih luas. Anak mendapatkan lebih banyak tantangan ketimbang saat masih bayi (Santrock, 2009: 87). Pada tahap ini, anak mengembangkan inisiatif ketika mencoba berbagai kegiatan baru dan tidak diliputi rasa bersalah (Papalia, 2009: 46). Apabila rasa bersalah melebihi perkembangan inisiatif anak, maka anak akan menjadi anak yang ridak dapat mengekspresikan kepribadiannya dengan leluasa karena takut dianggap salah. Anak akan menjadi anak yang diliputi rasa ragu-ragu. Perkembangan psikososial pada anak usia 4-6 tahun merupakan perkembangan yang bersifat kumulatif yang berarti bahwa perkembangan psikososial pada tahap awal akan mempengaruhi perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya. Oleh karena itu, jika terjadi hambatan dalam perkembangan psikososial pada tahap awal, maka keadaan ini akan mempengaruhi perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya (Martini Jamaris, 2003: 35). 

 Karakteristik perkembangan sosial emosional pada anak usia 4 – 6 tahun antara lain :
a.       Anak sudah dapat mengontrol perilakunya sendiri
b.      Anak sudah dapat merasakan kelucuan (misalnya ikut tertawa ketika orang dewasa tertawa atau ada hal-hal yang lucu)
c.       Rasa takut dan cemas mulai berkembang dan hal ini akan berlangsung sampai usia 5 tahun
d.      Keinginan untuk berdusta mulai muncul, akan tetapi anak takut melakukannya.
e.       Perkembangan humor berkembang lebih lanjut
f.       Anak sudah dapat mempelajari mana yang benar dan mana yang salah
g.      Anak sudah dapat menenangkan diri
h.      Pada usia 6 tahun, anak menjadi sangat assertif, sering berperilaku seperti boss (atasan), mendominasi situasi, akan tetapi dapat menerima nasihat
i.        Anak sering bertengkar tetapi cepat berbaik kembali
j.        Anak sudah dapat menunjukkan sikap ramah
k.      Anak sudah dapat membedakan yang benar dan yang salah dan sudah dapat menerima peraturan dan disiplin.
Hambatan proses perkembangan emosi pada anak usia dini dapat dilihat dari tiga faktor yaitu :
 a.    Faktor heriditas dan kondisi fisik
Faktor heriditas (keturunan) akan menyebabkan hambatan perkembangan sosial emosional. Anak yang dilahirkan dari keluarga yang memiliki keturunan tuna rungu, maka akan mempengaruhi kondisi psikis anak. Anak akan sulit berinteraksi dengan lingkungan jika dari sejak usia dini tidak memperoleh stimulasi yang baik. Kondisi ini akan memunculkan rasa kurang percaya diri atau minder yang berakibat pada terhambatnya perkembangan sosial emosional anak.
Faktor kondisi berkaitan dengan pertumbuhan fisik yang tidak sempurna terutama yang terjadi pada otak. Pertumbuhan otak baik sebelum kelahiran dan selama tahun-tahun masa kanak-kanan sangat penting bagi perkembangan fisik, kognitif dan sosial emosional di masa yang akan datang. Tersenyum, menggumam, berbicara, merangkak dan berjalan (semua tahapan utama sensorik, motorik dan kognitif pada anak) dimungkinkan karena perkembangan yang cepat di otak terutama di korteks serebrum (Papalia, 2009: 182-184).
Anak yang memiliki penyakit kronis, maka akan menghambat perkembangan sosial emosional. Anak tidak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuan sosial emosionalnya. Interaksi yang dilakukannya sangat terbatas pada orang-orang yang dekat dengannya. Rasa depresi, cemas dan takut mungkin akan muncul pada waktu yang berkepanjangan. Hal ini juga akan menghambat proses penyembuhan dari sakitnya. Dengan demikian, maka faktor kondisi fisik saling berpengaruh dengan perkembangan sosial emosional anak.
b.      Faktor keluarga
Perkembangan emosi anak dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, hubungan antar anggota keluarga, kondisi sosial ekonomi maupun peranan masing-masing anggota keluarga. Pola asuh orang tua memiliki beragam jenis. Orang tua yang terlalu otoriter dalam mendidik anak akan menyebabkan anak mengalami depresi. Anak tidak bebas dalam mengekspresikan perasaannya karena mungkin ada perasaan takut orang tuanya marah ataupun hal lain yang membebani perasaan dirinya.
Perkembangan emosi juga akan mengalami hambatan jika dalam hubungan antar anggota keluarga tidak harmonis. Sebagai contoh ketika anak dihadapkan pada peristiwa perceraian yang dialami orang tuanya, maka anak akan merasakan terbatasnya kasih sayang dan peranan orang tua (ibu, ayah atau keduanya) terhadap dirinya. Kelekatan yang sebelumnya terjalin memberikan efek positif. Hal ini sejalan dengan pendapat Papalia (2009: 278) yang menyatakan bahwa kelekatan memiliki nilai adaptif bagi anak, memastikan bahwa kebutuhan psikososial dan fisik anak terpenuhi. Pada keluarga yang orang tuanya mengalami perceraian, kebutuhan emosi yang seharusnya diperoleh dari orang tua menjadi berkurang, akibatnya perkembangan emosinya pun mengalami hambatan. Faktor ini juga berkaitan dengan faktor peranan orang tua (ayah dan ibu).
Faktor sosial ekonomi juga menjadi salah satu penghambat perkembangan emosi. Kondisi sosial ekonomi yang lemah memungkinkan orang tua mengalami depresi. Hasil penelitian yang dilakuan oleh Maccoby dan McLody (Syamsu Yusuf, 2005: 53) menunjukkan bahwa orang tua kelas bawah atau pekerja cenderung sangat menekankan kepatuhan dan respek terhadap otoritas, lebih restriktif (keras) dan otoriter, kurang memberika alasan kepada anak, kurang bersikap hangat dan memberi kasih sayang kepada anak. Dalam memperlakukan anak, keluarga pada sosial ekonomi bawah cenderung lebih keras dalam “toilet training” dan lebih sering menggunakan hukuman fisik dibandingkan pada kelas menengah dan atas. Anak –anak pada keluarga dengan sosial ekonomi bawah cenderung lebih agresif, independen dan lebih awal dalam pengalaman seksual.
c.       Faktor lingkungan
Seorang anak merupakan individu yang memiliki dorongan kuat untuk berinteraksi dengan orang lain (Papalia, 2009: 286). Lingkungan menjadi salah satu faktor penghambat perkembangan anak. Pada dasarnya, lingkungan memberikan banyak stimulus kepada upaya pengembangan kemampuan sosial emosional anak. Faktor lingkungan disini menunjuk pada lingkungan sekolah dan teman sepermainan. Sekolah menjadi salah satu lembaga yang dapat menghambat perkembangan sekolah. Hurlock mengemukakan bahwa sekolah merupakan penentu bagi perkembangan kepribadian anak baik cara berpikir, sikap maupun cara berperilaku. Sikap yang kurang baik dari guru terhadap siswanya dapat mempengaruhi kondisi sosial emosional anak. Perilaku guru yang tidak efektif seperti sikap apatis, kurang perhatian, depresi, mudah marah, tidak sabar, curiga, kurang memotivasi siswa, memberikan bantuan dengan setengah hati dan sikap-sikap lainnya akan menghambat perkembangan sosial emosional anak. Hubungan yang harmonis antara guru dengan siswa akan menciptakan kondisi yang nyaman dan aman bagi anak. Hubungan yang harmonis ini ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut: 1) tujuan pengajaran dapat diterima oleh guru dan siswa, 2) pengalaman belajar dirasakan nyaman oleh guru dan siswa, 3) guru menampilkan peranannya sebagai guru dalam cara-cara yang selaras dengan harapan siswa.
Berkaitan dengan hubungan dengan teman sepermainan, perkembangan sosial emosional dapat terhambat jika dalam hubungan dengan teman sebaya tersebut tidak harmonis. Agresi menjadi penindasan (bullying) ketika dilakukan secara sengaja, terus menerus diarahkan kepada target tertentu, korban biasanya mereka yang lemah, rentan dan tak terlindungi (Papalia, 2009: 522). Jika anak berada dalam posisi sebagai korban, maka anak akan diselimuti dengan perasaan takut dan cemas setiap kali bertemu dengan teman sebayanya. Hal ini akan menghambat perkembangan sosial emosional anak.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan individu dewasa :
a.     Perlu diperhatikan kekuatan atau potensi yang dimiliki anak dari keluarga miskin. Hal ini akan menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian pada diri anak dengan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
b.    Dorong anak untuk berinisiatif. Anak pada usia prasekolah perlu mendapatkan kebebasan untuk mengeksplorasi dunia mereka dengan memilih kegiatan / aktivitas sesuai dengan minatnya.
c.    Berilah materi yang menarik dan memicu imajinasinya melalui aktivitas bermain karena bermain akan mengembangkan berbagai kemampuan anak.
d.  Memupuk motivasi untuk menguasai pengetahuan dan rasa ingin tahu dengan memberikan tantangan tetapi jangan terlalu memberatkan anak (Santrock, 2009).
e.  Membantu anak agar memahami alasan tentang diterapkannya aturan, seperti keharusan memelihata ketertiban di dalam kelas dan larangan masuk atau keluar kelas saling mendahului.
f.     Membantu anak untuk memahami dan membiasakan mereka untuk memelihara persahabatan, kerjasama, saling membantu dan saling menghargai / menghormati.
g.  Memberikan informasi kepada anak tentang adanya keragaman budaya, suku dan agama di masyarakat di kalangan anak sendiri dan perlu saling menghormati di antara mereka (Syamsu Yusuf, 2005: 172).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar