Selamat datang di Umul Hidayah Blogspot... Di sini Anda akan memperoleh pengetahuan seputar pendidikan anak usia dini. Semoga Bermanfaat ...

Jumat, 02 November 2012

Model Pembelajaran BCCT

Metode pembelajaran anak usia dini melalui pendektatan BCCT (beyond centers and circle times = sistem sentra & saat lingkaran ) merupakan pendekatan yang dikembangkan melalui hasil kajian teoritik dan pengalaman empirik yang merupakan pengembangan diri dari pendekatan mentossori, high scope, head star, dan Reggio Emilia yang dikembangkan oleh cretive for childhood research and trainging ( CCCRT) Florida, USA dan sudah dilaksanakan selama 35 tahun, baik untuk anak normal maupun anak yang berkebutuhan khusus.


Pendekatan pembelajaran pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan metode BCCT (beyond centers & circle) ini lahir di Florida, amerika Serikat, dan diyakini mampu merangsang seluruh aspek kecerdasan anak (multiple intelligent) melalui bermaian yang terarah. Seting pembelajaranya mampu merangsang anak untuk saling aktif, kereatif, dan terus berfikir dengan menggali pengalaman sendiri. Hal ini berbeda dengna paradigma pendidikan lama yang menghedaki murid mengikuti perintah, meniru atau menghafal. Kegiatan pembelajaran bermain sambil belajara integrasi agama melalaui pendekatan BCCT yang dimaksud adalah pola pengajaran yang diterapkan dengan menggunakan kegiatan belajar yang menyenangkan dengna pendekatan sentra dan saat lingkaran.

a. Pengertian BCCT

Pendekatan sentra dan lingkaran adalah pendekatan penyelenggaraan PAUD yang berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat dalam lingkaran dengan menggunakan 4 jenis pijakan (scaffolding) untuk mendukung perkembangna anak. Empat pijakan tersebut adalah :


Pijakan lingkungna main
Pijakan sebelum main
Pijakan selama main
Pijakan setelah main


Pijakan adalah dukungan yagn berubah-ubah yang disesuaikan dengna perkembangan yang dicapai anak yang diberikan sebagai pijakan untuk mencapai perkembangna yang lebih tinggi.

Sentra main adalah zona atau area main anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat main yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak dalam 3 jenis main yaitu : (1). Main sensorimotor atau fungsional, (2). Main peran, dan (3) main pembangunan.

Saat lingkaran adalah dimana pendidik (Guru/Kader/Pamong) duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan anak yang dilakukan sebelum dan sesudah main.

b. Keunggulan BCCT

Kurikulum BCCT diarahkan untuk membangun pengetahuan anak yang digali oleh anak itu sendiri. Anak didorong untuk bermain di sentra-sentra kegiatan. Sedangkan pendidik berperan sebagai perancang, pendukung dan penilai kegiatan anak. Pembelajaran bersifat individual, sehingga rancangan, dukungan , dan penilaianyapun disesuaikan dengan tingkatan perkembangan di kebutuhan tiap anak.


Semua tahpan perkembangan anak dirumuskan dengna rinci dan jelas, sehingga guru memiliki panduan dalam penilaian perkembangan anak. Kegiatan pembelajaran tertata dalam urutan yang jelas. Dari penataan lingkungan main sapai pada pemberian pijakan-pijakan.

Setiap anak memperoleh dukungan untuk aktif, kereatif, dan berani mengengambil keputusan sendiri tanpa mesti tahu membuat kesalahan. Setiap tahap perkembangna bermain anak dirumuskan secara jelas, sehingga dapat menjadi acuan bagi pendidik melakukan penilaian perkembangan anak. Penerapan BCCT tidak bersifat kaku. Dapat dilakukan secara bertahap, sesuai situas dan kondisi setempat.

c. Tujuan dari pendekatan BCCT
Tujuan dari pendekatan BCCT ini antara lain adalah sebagai berikut:
Proses pembelajaran diharapkan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan sisiwa bekeja mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke sisiwa. STRATEGI pembelajaran lebih dipentingkan dari pada HASIL
Siswa dapat mengerti apa makan belajar, apa manfaatnya, dan bagaiman mencapainya. Mereka sadar bahwa apa yang mereka pelajari akan berguna bagi hidupnya nanti
Memposisikan guru hanya sebagai pengarah dan pembibing atau inspirator, bukan sebagai center, dan penceramah dalam strategi belajar.
Meletakkan pendidikan dasar keimanan, ketakwaan serta seluruh aspek keperibadian (ESQ) yang diperlukan anak didik dalam menyesuikan diri dengan lingkungan untuk pertumbuh kembangan selanjutnya
Terjalin kerja sama, saling menunjuang antara siswa dengan sisiwa, dan siswa dengan guru, sehingga menyebabkan sisiwa kretis dan guru kreatif.
Membuat situasi belajar lebih menyenangkan dan tidak membosankan sehingga siswa dapat belajar sampai tingkatan “Joy Of Discovery”, tertantang untuk dapat memecahkan masalah dengan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya.


d. Pengenalan sentra & lingkaran dalam kelas
Model pendekatan sentra menitik beratkan pada pandangan ahli pendidikan. Kegiatan pengajaran harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan individu yang mempunyai tempat dan irma perkembangan berbeda satu dengan yang lainya.

Menurut Helen Parkhust (1807) seorang ahli pendidikan di Amerika, mengemukakan bahwa kegiatan pengajaran harus memberikan kemungkinan kepada murid untuk berintraksi, bersosialisasi dan bekeja sama dengan murid lain dalam mengerjakan tugas tertentu secara mandiri. Pandangan ini tidak mementingkan aspek individu, tetapi juga aspek sosial. Bentuk pengajarannya memadukan model klasikal dan individual.

Pendekatan sentra berfokus pada anak. Pembelajaran berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran. sentra main yang berungsi sebagai Area main yang dilengkapi seperangkat alat main yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak. Sedangkan saat lingkaran adalah saat pendidikan duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberi pijakan pada anak yang dilakukan sebelum dan sesudah main.

Ruang kelas dapat dimodifikasikan menjadi kelas-kelas kecil, yang disebut ruangan atau sentra-sentra . tiap sentra terdiri dari satu bidang pengebangan. Ada sentra Ibadah, sentra Bahan Alam, sentra main / sentra Seni dan sentra Main Peran Mikro, Sentra Balok, sentra Persiapan sentra Seni dan Kreatifitas, sentra Musik dan Oleh Tubuh, sentra Memasak. Seorang guru betanggung jawab pada 7-12 siswa saja dengan moving class (kelas berpindah-pindah) setiap hari dari satu sentra ke sentra lain.

Untuk menerapkan metode ini, guru harus mengikuti pijakan-pijakan guna membentuk keteraturan bermain dan belajar. Pijakan pijakan tersebut adalah sebagai berikut:

Pijakan lingkungan: Guru menata lingkungan yang disesuaikan dengan intersitas dan densitas

Pijakan sebelum bermain
Guru meminta sisiwa untuk membentuk lingkaran
Guru ada diantara siswa sambil bernyayi
Guru meminta para siswa untuk duduk melingkar
Guru meminta para sisiwa berdo’a bersama
Guru menanyakan sisiwa kesiapan mendengar cerita dan memasuki sentra
Guru memulai bercerta menggunakan media yang sesuai tema
Guru mengimformasikan jensi maian yang ada dan menyeampaikan aturan bermaian
Guru meminta sisiwa untuk masuk kearena sentra


Pijakan saat bermain
Guru empersiapkan catatan perkembangan sisiwa
Guru mencatat perilaku, kemampuan dan celetukan sisiwa
Guru membantu sisiwa jika dibutuhkan
Guru mengingatkan sisiwa bila ada yang lupa atau melanggar aturan


Pijakan setelah bermaian
Guru meminta sisiwa untuk membereskan mainn dan alat yang dipakai
Guru meminta siswa menceritakna pengalmaan bermaiannya sambil menghitung jumlah kegiatan yang idlakukan
Guru menutup kegiatan dengna berdo’a bersama
Guru membagikan buku komunikasi sebelum pulang.
  

Contoh pembagian sentra yang dilakukan pada KB dan RA/TK Islam ada 6 sentra, antara lain :
Sentra Ibadah
Sentra Bahan Alam
Sentra Peran
Sentra Balok
Sentra Persiapan
Sentra Seni dan Kerativitas
 

Tiap-tiap sentra mempunyai tujuannya masing-masing sesuai dengan pengembangannya. Namun, pada intinya tiap sentra in mempunyai satu tujuan pokok yaitu mengoptimalakan potnesi anak dalam kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta menanamkan nilai-nilai agama pada anak.

 
  
                

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar